CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Friday, 9 December 2011

mahar cinta

Andainya dapat engkau mendengarkan
Suara di hatiku melagukan rindu
Kiranya engkau mampu mentafsirkan
Setiap bait kata-kata yang terucap

Pasti dirimu kan memahami
Harapan kasih yang terbina
Sekian lama di sudut hatiku
Hanyalah untukmu

Bukanlah aku sengaja
Melindungi rasa di jiwa
Namun bimbang diri kan terleka
Hanyut dibuai angan dan mimpi indah
Hingga terabai segala cita
Sedang khayalan tak menjanjikan
Segunung kebahagiaan
Sebagai mahar hantaran

Apakah mungkin engkau mengerti
Setiap cinta yang dilafazkan
Bukanlah sekadar mainan
Tetapi sebuah janji

Andainya dapat engkau mendengarkan
Suara dihatiku melagukan rindu
Kiranya engkau bias mentafsirkan
Setiap bait kata-kata yang terungkap

Pasti dirimu dapat melihat
Rahsia kasih yang terpendam
Sekian lama di sudut hatiku
Hanyalah untukmu
Selamanya..

Thursday, 8 December 2011

tidak mudah........

Tidak MUDAH tersenyum ketika hati menangis dan teriris
Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari itu bagian dari kasih Ilahi
Agar Allah memindahkan kebaikan-kebaikan orang yang menyakiti kita

Tidak MUDAH bangkit dalam keadaan terpuruk
Tapi akan terasa INDAH ketika kita menyadari...
Bahwa Allah sedang menyapa dengan cinta-Nya Agar kita tumbuh besar dan kuat

Tidak MUDAH memberi ketika diri sendiri dalam kekurangan
Tapi akan terasa INDAH ketika kita bisa membahagiakan orang lain
Bukan membahagiakan diri sendiri

Tidak MUDAH memaafkan ketika kita dibenci dan di hina
Tapi akan terasa INDAH kalau itu bagian dari penyucian diri...
Dan ikhlash hanya mengharap ridlo Ilahi

Tidak MUDAH melupakan kegagalan ketika kita masih berkubang didalamnya
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari itu adalah awal dari kesuksesan kita

Tidak MUDAH melupakan masa lalu yang menyakitkan
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari itulah jalan yang harus ditempuh
Untuk mengawali kebahagiaan yang akan diberikan Allah sebagai penggantinya

Tidak MUDAH menghilangkan duka karena kehilangan
Tapi akan terasa INDAH ketika menyadari...
Bahwa Tuhan telah meminjamkan kepada kita beberapa saat

Tidak MUDAH menghadapi penderitaan dan cobaan yang terus mendera
Tapi akan terasa INDAH ketika menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur
Dan menyadari itu bagian dari cara Allah menyayangi hambanya...
Seperti Allah menyayangi para Nabi dan Rasul-Nya.

Monday, 14 November 2011

Apa yang awk perlu tahu...

tak perlu ada setiap masa
cukup cuma tahu aku setia
terpulang pada engkau untuk percaya
kerana saat ini aku hanya ada kata

Penat.letih.

Jeritlah !

Pekiklah !

Teruskan hingga kau puas
sampai kau rasa lelah
hingga surut kamus kata-katamu
habis kaku kebas lidahmu

Aku tahu kau sendiri tidak peduli 
biar terherot mulutmu seinci

Aku dah malas
Bukan aku tiada daya membalas
hanya aku yang sudah menjadi malas

Tuesday, 8 November 2011

Hati Terluka


Ada hati yang terluka,
Ada tangisan di bibir mata,
Ada derita meruntun jiwa,
Ada jiwa tiada bernyawa…
Hati ini sedih sekali,
Ada derita silih berganti,
Ingin pergi membawa diri,
Tempat mengadu hanya Ilahi….
Moga luka boleh diubati,
Moga jiwa hidup kembali,
Moga hati tidak mati,
Moga derita berlalu pergi….
Siapa sangka siapa menduga,
Bahagia dicari derita tiba,
Mengadu nasib pada yang Esa,
Moga tenang seluruh jiwa..

Ya Allah, Ya Tuhanku, Engkau tabahkanlah hati hambamu untuk menempuh segala dugaan dariMU...

The story of LOve=Eid ul Adha



Below is a passage from an article titled: Significance of Eid al Adha: Abraham’s Sacrifice.
Ismail being the promise of future generations was in some sense the whole world for Ibrahim.
So there was joy and rejoicing in Ibrahim’s house as Ismail was quickly growing under the sun of his father’s love. But Allah decided that it was not to remain so. Ibrahim was to be tried once more. Ibrahim had a vision in which he was commanded by Allah to slaughter his only son.
Why should Ibrahim, whose entire life was devoted to Prophethood, to Jihaad, to removing ignorance, to laying the foundations of tawheed be tried once again?
Is it because man should not rest? Is it because man should not be deceived by 100 years of Jihad and victories? Is it because he should not think of himself without weakness? Is it for the fact that whatever we fix our eyes upon in this world will blind us? And finally, is it because the higher the spiritual height we reach, the greater is the danger of falling?
It is not possible to convey in words what it must have meant for Ibrahim to be commanded by Allah (swt) to sacrifice his only son Ismail. The magnitude of the pain does not allow the imagination to enclose it. It inspires fear and trembling.
How can Ibrahim take his beloved son, the fruit of his life, the joy of his heart, the meaning of his living and staying, his Ismail, and hold him on the ground, put a knife to his throat and kill him?
If it were only the slaughter of Ibrahim at the hand of Ismail, how easy!
But no! The young Ismail must die and the old and aged Ibrahim must remain!
Ibrahim, the steel-like idol-smasher must have felt torn apart!
Within him, there must have been a war, the greatest jihad. Which war? The war between God and Ismail! The difficulty of choice!
Who should Ibrahim choose? Love of God or Love of self? Prophethood or Fatherhood? Loyalty to God or loyalty to family? Faith or Emotion? Truth or Reality? Consciousness or Instinct? Responsibility or Pleasure? Duty or Right? Tawheed (Monotheism) or Shirk (Polytheism)? Advancing or Remaining? To Become or To Be? And finally, God or Ismail?
What should Ibrahim choose?

He preferred Advancing to Remaining. Ibrahim chose God and gave up Ismail. Brothers and Sisters, in Mina, an amazing and frightening conversation between a father and a son took place. Ibrahim said to Ismail : "O my Son, I see in a vision that I offer you in sacrifice. Now see what is your view ? " (37:102) What frightening words for a child to hear ! Ismail could have kept silent. He could have asked Ibrahim to refrain. But Ismail had also faith. He submitted to Allah's will. Realising his father's distress, Ismail gave him these comforting words : "O my father ! Do as you are commanded. You will find me, if Allah so wills, patient and constant " (37:102) Allah-u-Akbar ! Allah-u-Akbar ! Allah-u-Akbar ! Ibrahim had consulted his son who willingly offered himself to Allah's command. The choice of Ibrahim was sacrifice. That of Ismail was self-sacrifice 




Eidul Adha has a very special meaning to muslims. It is not just of celebration where animals slaughtered and their meats are distributed and enjoyed. It was an inspiring story behind it: the story of love, when ibrahim had to sacrifice his one and only beloved son for the sake of love to Allah. It was the biggest sacrificed to Allah swt. What about us? Ask yourself, ask your Iman, find out what should we do with our Iman, self-reflection,...insyallah Allah will help us in our journey of life.







Tuesday, 1 November 2011

Bermuhasabah dipagi hari


"hidup ini terlalu singkat untuk menjadi oarang yang biasa, perlu jadi yang luar biasa untuk mendapat tempat yang luar biasa di akhirat kelak!"<Zainab Al-Ghazali>
"takkan ku izinkan diri ini menjadi biasa-biasa, kerana telah Dia ciptakan aku bukan sia-sia sebagai makhluk luar biasa dengan tanggungjawab yang luarbiasa.Berusaha menjadi wanita hebat, kerana Islam itu hebat dan hanya layak dipikul oleh mereka yang hebat sahaja"